Sunday, September 14, 2014

Pergi Bukan Berarti Melupakan (September Ceria)

Mereka  pergi bukan berarti mereka melupakan, betul ?

September, di malam suntuk kembali memanjakan jari dengan celoteh-celoteh yang ada di hati. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, hanya beberapa dari mereka yang masih dapat menetap dan tinggal dalam satu suasana keakraban yang menyejukkan hati, suasana dimana dulu kebersamaan ada, dimana kebersamaan tercipta, membuat nuansa-nuansa yang tak disangka sampai detik ini masih terjalin indah, bahkan membuat kerinduan yang tiada tara.

Berada dalam lingkaran jutaan bahkan miliaran manusia, namun hal itu masih terasa sulit untuk mengatakan bahwa kesepian itu takkan ada, nyatanya sepi itu masih menusuk hingga ke tulang-tulang ini.

Orang-orang bahagia, orang-orang senang, ketika mereka dapat berkumpul bersama orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Keluarga, teman, sahabat, bahkan pacar, begitupun sebaliknya akan ada kesedihan ketika orang-orang yang disayangi tidak dapat berkumpul bersama-sama dengan kita. Ada senang, ada pula sedih, lumrah itu bagian dari hidup, bukan sekedar permainan kata.


Ketika kita telah banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, telah banyak membuat suka duka yang dilalui, bahkan telah banyak membuat cerita dan pengalaman hidup yang dapat diceritakan untuk anak, cucu kita nanti. 

Semua akan terbesit dalam pikiran, akan ada masa dimana timbul pertanyaan, kapan mereka akan pergi ? atau sampai kapankah kita semua dapat bersama, berkumpul mengarungi lautan hari-hari yang tak kita ketahui dimana ujung dan akhirnya, terjawab ketika kita telah mati. Dan mereka pergi tak bersama kita lagi, entah karena jarak dan waktu yang memisahkan demi satu tujuan dan cita-cita, mereka pergi karena masa depan mereka, mereka pergi karena itu bagian dari kehidupan atau mereka pergi dan tak kembali karena Tuhan telah memanggil. Ini hidup, tak ada yang abadi.


Aku Gali (18thn), sengaja ku tuangkan kalimat-kalimat diatas agar kita dapat mengingat atau kembali mengingat dan merenungkan hal-hal yang telah kita lalui bersama orang-orang yang kita sayangi, entah itu keluarga, teman, sahabat, ataupun pacar. Terkadang kita lupa dan tidak sadar, bahwa semua orang yang ada di sekitar kita bisa saja pergi meninggalkan kita, tidak ada kepastian sampai kapan kebersamaan itu akan terus tercipta, bisa jadi karena kepentingan dan bisa jadi karena Tuhan menginginkan.

Ya, gambaran sederhana dari kalimat di atas ialah aku merasakan kepergian sahabat-sahabatku cukup membuatku untuk bersedih, cukup membuatku untuk merasa sepi, cukup membuatku untuk merasakan hal yang tak biasa dimana dulu aku mengingat bahwa hal-hal ini pernah kita lakukan bersama, di sisi lain aku bersyukur karena kami hanya terpisah jarak dan waktu, bukan dan belum terpisah oleh alam atau dunia. Sekalipun ku sadari bahwa hal itu pula akan terjadi, dan tak ada yang mengetahui selain Tuhan Yang Maha Kuasa, namun di sisi lain pun tak dapat dipungkiri sekalipun terpisah jarak dan waktu kerinduan itu pasti selalu muncul dalam benak ini.

Semua hubungan persahabatan kami terjadi dengan proses yang baik, dan hal itu membentuk suatu kebiasaan. Contoh kecil, kami sering berkumpul di salah satu rumah teman kami. Bercanda gurau di sana, tak banyak perubahan jika kami kumpul, orang-orangnya pasti hanya itu-itu saja, ya karena bagiku merekalah orang-orang yang tak pernah pergi mencari yang baru dan melupakan yang lama. 

Mereka tetap hidup normal dan tetap menjadi mahluk sosial, tetap berinteraksi dengan teman-teman mereka yang lain di luar sana, begitupun denganku, aku tetap punya teman di luar dan berinteraksi dengan mereka, namun pada akhirnya ketika aku kumpul bersama mereka, mereka-mereka yang ku maksud adalah orang-orang yang "wajahnya itu-itu saja terus" ditemui semua berubah, hal itu terasa menjadi indah, menjadi keluarga kedua bagiku, setelah keluarga asli yang ku miliki. 

Sekalipun orang dan wajahnya itu-itu terus  tapi tak jadi masalah. Tak pernah ada rasa bosan melihat wajah-wajah mereka, tak pernah ada rasa bosan bertemu dan bersama mereka. Malah yang terjadi aku akan merasa rindu ketika tidak bersama mereka atau mereka pergi dan itu akan sangat terasa sekali

Seperti yang aku rasakan,

Eno, sahabatku yang saat ini terpisah jarak denganku karena melanjutkan pendidikannya di luar, aku begitu menantikan dia pulang ketika dia jauh disana. Dia baru saja menghabiskan waktu bersama kami selama liburan, dia termasuk orang yang selalu ada kumpul bersamaku dan teman-teman yang lain, sudah lama kami bersahabat, sudah banyak hal yang kami lalui, sudah banyak pula suka duka yang di lalui.

Begitupun dengan Eby, Ia juga adalah sahabatku, aku sudah tak dapat menghitung berapa puluh ribu jam terbang sudah ku jalani bersama mereka, banyak orang-orang yang dulu bersama kami tapi pada akhirnya menghilang entah kemana, hanya beberapa orang saja yang masih ada mempertahankan hubungan ini, salah satunya sahabatku yang akrab di panggil "Ilong". Ia juga terpisah jarak denganku
karena melanjutkan pendidikannya di luar, sekalipun kami sudah kuliah tapi kami bisa konsisten bersama sampai saat ini.


Aku merasa sedih jauh dari sahabat-sahabatku, kadang di malam hari aku teringat mereka, aku merenungi mereka, tak dapat di pungkiri pula air mata ini kadang menetes ketika mengingat mereka. 

Aku ingat ketika mengantar Eno ke bandara, di tahun pertama aku sedih tapi tak begitu larut dalam kesedihan, Ia menangis ketika pamit denganku dan aku tak meneteskan air mata namun aku juga merasa sedih, namun semua itu berubah dan terasa berbeda ketika aku mengantarnya ke bandara baru-baru ini, tepatnya tanggal 1 September 2014.

Semua terasa berbeda, ketika Ia mau datang berlibur, sudah ku pikirkan bahwa aku akan berusaha memanfaatkan waktu bersama dia dan teman-teman yang lain ketika Ia datang, dan nyatanya secara sadar aku telah berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan hal tsb. Namun, tetap saja perpisahan tetap akan terjadi, semaksimal apapun waktu luang, yang aku manfaatkan ketika dia ada, kerinduan akan tetap tercipta ketika Ia kembali pergi untuk menempuh pendidikan di luar sana.

Semua sangat terasa ketika perjalananku menuju bandara, sepanjang jalan pikiranku terus memikirkan dia, ini tak biasa, tak seperti sebelumnya. Sesampainya di bandara, aku semakin merasa sedih, teman-teman yang lain sibuk tertawa di balik kesedihannya, sedangkan aku menyendiri tak bersemangat dan hanya diam ketika menunggu panggilan keberangkatannya. Lalu ketika pamit setelah beberapa menit kemudian panggilan keberangkatan, aku merasa tak ingin menerima atau menjamu panggilan pamitnya, aku merasa sedih, sangat sedih. Tapi apalah daya, semua harus terjadi, aku harus tetap menerima dan menjali, semua ini demi pendidikan dan semua demi cita-cita.

Aku tak begitu mengerti, mengapa semua seketika terasa amat sangat menyedihkan, bahkan beberapa hari setelah kepergiannya aku terus memikirkannya, karena kepikiran, Ia sampai ku bawa mimpi. 

Aku masih dapat berkomunikasi dengannya, namun sengaja aku tak mau menghubunginya karena tak mau membuatnya gelisah dan menjadi beban pikiran, akan tetapi teman-teman yang melihatku kurang begitu semangat, dan alasannya karena masih terasa kepergiannya yang membuatku saat ini merasakan rindu, mereka menyampaikannya kepada Eno, dan al hasil Ia pun tahu dan kemudian menghubungiku, aku tak ingin dia panik, aku tahu dia khawatir kepadaku, nampak jelas ketika Ia tahu semua akan hal itu. Singkatnya aku sadar, aku akan selalu merindukannya.

Aku ingat tadi mulai mengetik artikel ini pada pukul 12.10 Wita dan sekarang sudah pukul 03.11 Wita, cukup lama juga. Tak begitu terasa capeknya, karena bercerita tentang mereka.

Eby, sahabatku sayang. Kau tahu aku sedih, setelah Eno pergi kali ini dirimu lagi yang pergi. Setega itukah kau meninggalkanku ? parahnya, kau pergi di tanggal yang sangat terjepit, 14 September.

14 September Eby, besoknya itu ulang tahunku, apa kurang cukup Eno pergi di tanggal 1 September ? atau kalian sengaja pergi di tanggal seperti itu ?

lalu ketika tanggal itu digabungkan maka tepatlah itu tanggal  "15 September",
itu tepat ulang tahunku sayang :')


Huft, hehehe,tapi tenang tak apa sayang, aku sadar dan mengerti kok kalian semua pergi untuk pendidikan kalian, untuk masa depan dan cita-cita kalian :)

Aku sudah sering merayakan ulang tahunku bersama kalian sahabatku sayang, tapi kalian tahu saat ini aku terus mengingat ketika ulang tahunku yang ke-17, kalian ingatkan ? Jujur, itu benar-benar surprise, tak sempat terlintas dipikiranku kalau kalian akan datang di malam itu, dan ternyata kalian sudah koordinasi dengan kakakku sebelumny *bagus, oh ya aku ingat kalian datang dengan baju tidur, hahaha...








Read More
Designed ByBlogger Templates